Cari Blog Ini

Senin, 18 November 2019

Mastitis (Pernah) Menyerangku

Alat Pompa ASI biasa
Contoh Alat Pompa ASI. Dokpri


Oleh: Gita FU

Assalamu'alaikum. Semangat pagi, sobat kopidarigita!

Lama kita tak bersua, aku berdoa kalian semua dalam kondisi kesehatan yang terbaik. Mengingat kini kita tengah mengalami musim peralihan dari kemarau ke penghujan, kita wajib jaga kondisi tubuh biar nggak gampang sakit. Ya, kaaan? Aamiin.

Kali ini aku ingin bahas mastitis, terkait ceritaku bulan lalu soal eklamsia pasca persalinan Hanif. Kalo kalian belum baca, silakan cek di sini. Tapi sebelumnya, sudah tahukah kalian apa itu mastitis?

Kulansir dari situs alodokter.com, mastitis ialah pembengkakan pada jaringan payudara; terjadi pada ibu menyusui, sehingga mengakibatkan terhambatnya pemberian nutrisi pada bayi karena si ibu merasakan sakit pada payudaranya. Ditandai dengan:
  1. Payudara memar kemerahan.
  2. Sering terasa gatal di payudara.
  3. Payudara terasa perih saat menyusui.
  4. Terdapat benjolan menyakitkan di payudara.
  5. Ukuran salah satu payudara lebih besar karena pembengkakan.
  6. Puting mengeluarkan nanah.
  7. Sering merasa lelah.
  8. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di ketiak.
  9. Demam.
Infeksi pada payudara atau mastitis bisa disebabkan oleh beberapa hal. Berikut penyebab mastitis paling umum:
a. Infeksi bakteri
    Bakteri penyebab mastitis umumnya adalah Staphylococcus dan Streptococcus yang menginfeksi jaringan payudara melalui luka di puting maupun saluran air susu. Biasanya bakteri ini berasal dari mulut bayi dan permukaan kulit payudara.

b. Saluran aliran ASI yang tersumbat
    Penyumbatan yang dimaksud adalah ketika ASI yang tersisa mengendap di dalam saluran susu. Komplikasinya dapat berupa infeksi payudara

Selain kedua penyebab di atas, beberapa faktor berikut bisa meningkatkan risiko terjadinya mastitis:
  1. Luka pada puting payudara.
  2. Menyusui hanya dengan satu payudara.
  3. Memakai bra yang terlalu ketat.
  4. Kelelahan.
  5. Gizi kurang.
  6. Frekuensi menyusui yang tidak teratur.
  7. Pernah mengalami mastitis di masa lalu.
Bagaimana, sudah dapat gambaran ya, tentang apa itu mastitis. Kalau bahasa Jawa-nya lebih dikenal dengan istilah 'mrangkaki' yang bikin meriang. Benar-benar luaarr biasssaa enaknya! Dan aku pernah merasakan nikmatnya terkena mastitis itu. Kapan? Ketika terbaring di ranjang rumah sakit akibat terkena eklamsia. 😐

Ritual Baru: Memompa ASI


Bayi Hanif terpaksa diberi minum sufor selama terpisah dariku. Padahal produksi ASI-ku sedang lancar-lancarnya. Terus bagaimana, dong? Seorang perawat di ICU memberikan saran: perah ASI-nya lalu dibuang, memakai pemompa ASI. Mendapat saran itu, suamiku segera ke apotik membeli alat pompa ASI model klasik (seperti pada gambar di atas). Lantas di bawah pengarahan sang perawat, suamiku membantu memerah ASI, lalu menampungnya ke gelas plastik. Aku cuma bisa terdiam ketika ia melakukan hal itu. Karena untuk memerah sendiri aku belum sanggup, posisiku yang setengah rebahan plus selang infus di tangan kanan, betul-betul menghalangi gerakan.

Ketika aku melihat banyaknya ASI yang tertampung di gelas, dan membayangkan itu terpaksa dibuang, benar-benar membuat hatiku sedih. Ya, Rabb....

Jadi begitulah rutinitasku selama rawat inap. Setiap beberapa jam Pak suami akan mengingatkan bahkan membantuku untuk memompa ASI. Aku sungguh bersyukur atas ketelatenan suami. Jika tak ada dia, kemungkinan besar aku sudah menyerah. Karena proses memompa itu begitu membosankan dan melelahkan. Belum ditambah rasa nyeri akibat kateter, atau jarum infus yang tak sengaja tertarik. 😥

Bagaimana Mastitis Menyerangku


Waktu itu aku dilanda perasaan sedih, dan gulana. Aku ingat bayiku, serta Farhan dan Hanna di rumah. Aku juga merasa kasihan melihat wajah lelah dan kurang tidur suamiku. Belum lagi terbayang Simbah, adik-adik ipar, yang ikut kurepoti. Aih, pokoknya mellow. Dan perasaan negatif ini sungguh tak terbendung. Padahal tinggal dua hari lagi aku (katanya) akan diperbolehkan pulang dan rawat jalan. 

Perasaan negatif tersebut membuatku abai  memompa ASI, padahal sudah waktunya. Ndilalahnya, tak ada Pak suami yang biasanya mengingatkan. Kalau nggak salah ingat, dia sedang pulang menengok anak-anak. Maka terjadilah....

Tiba-tiba aku merasa kedinginan hingga menggigil dan meringkuk. Selimut kutarik menutupi seluruh tubuh, tapi tetap terasa dingin. Payudaraku mengeras, sakit sekali.  Alhamdulillah, tak lama kemudian suamiku masuk ke ruangan. Dia kaget melihat kondisiku. Apalagi setelah meraba dahiku yang panas. Bergegas dia memanggil perawat.

Mbak suster sigap memeriksa keadaanku. Lalu dia bertanya, "Ibu sudah memompa ASI?" Kujawab dengan gelengan. "Pantas! Ibu terkena mastitis ini!" Lalu mbak suster menerangkan pada kami, sambil menyuntikkan obat.

"Sudah saya kasih obat, Pak. Tapi nanti tetap dipompa ya, Bu, ASI-nya. Dikompres air hangat juga boleh, Pak. Biar cepat reda demamnya," saran mbak suster.

Tanpa menunggu lama, Pak suami segera mencari air panas ke ruang ICU. Dia ingat sewaktu aku dirawat 2 hari pertama, di kamar mandinya ada shower air panas. Berbekal 4 botol Aqua dia menampung air panas secukupnya. Setelah itu botol-botol itu dikompreskan ke punggung, dada, perut, dan telapak kaki. Alhamdulillah setelah beberapa waktu, suhu tubuhku normal kembali dan demamnya reda.

Kemudian sambil menahan nyeri, ASI-ku kembali dipompa. Pak suami sempat mengomeliku yang katanya 'nglalu'. "Ingat Hanif, Mi, jadi ayo semangat biar cepat sembuh," begitu katanya. Aku cuma bisa terdiam malu.

Syukurlah drama mastitis tersebut tak berlangsung lama, berkat kesigapan Pak suami dan tenaga medis di bangsal Mawar RSUD Cilacap. Aku tidak akan mampu membalas semua kebaikan yang telah mereka berikan. Biarlah itu menjadi urusan Allah yang Mahacinta. 

Demikianlah kisahku, semoga sobat kopidarigita bisa mengambil hikmah dan pelajarannya, yaa. Sampai jumpa di postingan berikutnya. Salam! (*)

Cilacap, 181119

#kontemplasi
#memoar


Rabu, 25 September 2019

Eklamsia, 2 Minggu Pasca Persalinan Hanif

papan informasi di Ruang ICU RSUD Cikacap. foto: dokpri



Assalamualaikum. Semangat pagi, Sobat semua!

Ada kalanya pengalaman yang tidak menyenangkan meninggalkan semacam trauma dalam benak kita. Wujud trauma itu bisa macam-macam, ada yang jadi parnoan--alias paranoid, ada yang jadi amnesia sementara, ada juga yang denial--alias sibuk menyangkal pengalaman itu, dan lain-lain. Sebenarnya mengatasinya itu 'mudah', yaitu dengan bercerita. Karena saat bercerita, sesungguhnya kita sedang mengurangi kengerian/ketakutan/kesedihan pribadi, supaya lebih ringan ditanggung. Iya, nggak?
Tapiiiii, bercerita pun butuh keberanian. *Ahelaah, jadi gimana, dong? Yaaaa, harus diberani-beraniin. Cari orang yang mampu menumbuhkan keberanian kita. Hehehe. Maaf, ya, sobat kalau aku mbulet. Aku kan bukan motivator. :p

Aku sendiri butuh waktu cukup lama untuk pikir-pikir sebelum menuliskan pengalaman ini di blog. Kalau cerita ke teman yang dipercaya sih, udah, ya. Dia juga sih yang ngedorong aku buat sharing. Katanya, siapa tahu pengalamanku bermanfaat buat orang lain.  *sigh. Saking lamanya mikir dan maju mundur, nggak terasa sudah lewat setahun. *Tepok jidat.
Jadiii, inilah dia pengalamanku setahun lalu. Semua berhubungan dengan kelahiran anak nomor tiga, si bontot Hanif. Disimak ya, Sobat!

Awal Mula

Kita mulai dari kisah persalinan Hanif.
Aku mulai rawat inap sejak Rabu, 5 September 2018. Sementara jadwal operasinya hari Kamis, 6 September 2018. Dokter kandungan yang menanganiku adalah Dr. Supadmi, Sp. Og. Beliau orang Sampang, Cilacap, masih tetangga desa dengan mbak Erin Cipta. Usia kandunganku 38 Minggu 4 hari, Alhamdulillah sudah pas menurut pemeriksaan dokter. Dan insyaallah dengan kelahiran si bontot ini maka jadi penutup kehamilan pula bagiku. Karena riwayat persalinanku by Cesar semua, maka 3 kali operasi adalah batas maksimalnya. Kondisiku akan kian menurun dibanding yang dulu. (Ini bakal terbukti kemudian).

Singkat kata, aku pulang membawa bayi Hanif pada tanggal 10 September 2018. Setelah di rumah drama baru sudah menunggu.
Punya bayi lagi tentu saja menguras fisik dan emosiku. Semua itu ditambah ada dua anak yang sedang pinter-pinternya bikin ngelus dada: Farhan kelas 6, Hanna baru TK. Masih bersyukur ada Mbah buyut uti yang meringankan pekerjaan rumah, dan suami yang kerjanya fleksibel sehingga bisa membantu, tapi tetap saja aku mengalami shock. Kurang tidur, ditambah spaneng, ditambah ini-itu akhirnya membuat kepalaku sakit.

Aku ingat, hari Rabu 19 September itu kepalaku mulai pening kayak mau pilek. Tapi masih kuabaikan. Eh, Kamisnya makin parah. Rasanya seperti dipalu kepalaku, sakiiit banget. Sempat mengira ini cuma masuk angin biasa, jadi saat suami istirahat pulang siangnya aku minta dikerokin. Setelah  itu dia berangkat jualan lagi. Tapi meski sudah dikerokin, tetap nggak ilang sakit kepalaku.  Malah semakin parah. Bersyukur sekali paksu pulang jualan  jam 5, karena biasanya habis magrib baru selesai. Si Mbah langsung melaporkan sakit kepalaku ini ke paksu. Tanpa ba-bi-bu dia langsung nurunin gerobak leker, terus ngajak aku ke klinik Pratama di jalan Krawang Sari. Anak-anak ditinggal semua sama Simbah. Duh, sepanjang perjalanan aku cuma bisa menelungkupkan muka ke punggung paksu.

Sampai di klinik aku antri sebentar, sekira seperempat jam. Tiba giliranku diperiksa, aku ceritakan sakit kepala hebat disertai pandangan memburam. Aku  juga bilang bahwa dua minggu sebelumnya operasi Caesar. Bu mantri menyuruhku baring di dipan, terus aku dikasih obat pereda  sakit via anal. Anehnya, sakit kepalaku makin menjadi-jadi. Tak lama aku seperti hilang kesadaran.

Sudah di Rumah Sakit

Aku siuman kala mendengar samar-samar percakapan orang-orang di sekelilingku. Lalu seperti ada yang memanggil-manggil namaku. Kala kubuka mata, rupanya itu suara paksu dan adik iparku Santi. Kemudian ada beberapa orang lagi, mereka tengah melepas jaketku. Spontan aku ingat bayi dan anak-anakku. Langsung kutanyakan pada Santi dan dijawab semua baik-baik saja, sudah ada yang bantu menangani di rumah, jadi aku tak usah khawatir. Lalu rasa sakit di kepalaku datang lagi. Selanjutnya aku kembali tak sadarkan diri.

Beberapa saat berlalu, aku sadar kembali. Kali ini suasana gelap. Rupanya aku sedang berada di dalam mobil ambulans didampingi paksu, yang tak henti-hentinya berzikir di telingaku sembari memanggil-manggil namaku. Katanya, "Kuat, ya, Mi. Insya Allah kamu kuat. Sabar ya, kamu mau ditolong. Kita mau ke ICU naik ambulans. Istighfar, Mi."
Aku hanya diam, lalu kembali tak sadar.

Ketika kembali siuman, aku sudah di atas ranjang ruang ICU. Ada selang oksigen di hidung, lalu alat entah apa menempel di dada, infus yang berbeda dari yang pernah terpasang saat aku operasi cesar, dan pemindai entah apa dijepitkan di ibu jariku; belum lagi kateter yang sudah terpasang, mengganggu gerakku. Suara-suara statis dan dengungan mesin semakin menambah perbedaan ruangan ICU dengan ruang rawat inap biasa. Aku bingung, kenapa kondisiku jadi begini. Sakit di kepalaku pun masih terasa kuat. Suamiku banyak tersenyum menenangkan sambil terus melantunkan  zikir. Aku kembali memejamkan mata.

Beberapa kali aku terbangun akibat sakit yang masih mendera. Suamiku sigap membantu membenarkan posisi bantal. Belakangan aku baru ngeh, bantal itu dibawakan oleh Aa', anak sulung Santi. Sempat pula suamiku bertanya, dari keluargaku siapa yang patut dikabari. Kujawab, lebih baik mengabari Agung terlebih dahulu. Aku khawatir reaksi orang tuaku jika diberi tahu kondisi saat itu; pasti panik, dan makan pikiran mereka. Setelah itu aku tertidur lagi.

Lewat tengah malam, kalau nggak salah jam 2 dini hari, barulah aku bisa mengobrol lebih enak Karena sakitku  mulai reda. Aku minta diceritakan apa yang telah terjadi. Paksu pun menjelaskan kejadian sejak di klinik. Setelah Bu mantri menyuruhku berbaring miring usai diberi obat, tiba-tiba aku mengalami kejang-kejang lalu koma di sana. Bu Mantri panik, buru-buru menyuruh paksu membawaku ke IGD. Suamiku berpikir dan bergerak cepat. Ia langsung menuju rumah salah satu pakliknya yang masih di sekitar klinik itu.

Ketika itu pakliknya--Lik Adman--beserta istri tengah menghadiri undangan pernikahan (untunglah masih di dekat-dekat klinik). Begitu paksu mendatangi dan meminta tolong, sontak beliau berdua bergegas menyiapkan mobil angkotnya  lalu menjemputku ke klinik. Sementara paksu buru-buru pulang ke rumah, memberitahu Simbah apa yang terjadi sekaligus meminta tolong Santi untuk ikut ke rumah sakit.

Aku dibawa ke IGD RSUD Cilacap. Di situ para perawat memberi pertolongan pertama, berupa suntikan lewat infus. Seperti kutulis di atas, aku sempat siuman dan mendengar suara Santi dan suami. Namun aku kembali kejang-kejang disusul jatuh koma. Hal tersebut membuat dokter memutuskan aku harus menginap di ICU. Ya Allah...


infus dan pemindai detak nadi di tangan saya

"Bagaimana dengan Hanif, Bi?" tanyaku lirih. Kasihan sekali bayiku. Padahal dia masih butuh ASI.

"Sudah nggak usah khawatir. Hanif dirumat Santi. Farhan dan Hanna sama Mbah uti," balas suamiku. "Yang penting kamu cepat sehat, ya."

"Tapi Hanif kan masih mimik ASI? Apa ASI-nya Az diperah terus kasih ke dia?"

"Nggak usah, Mi. Kata dokter ASI-mu mengandung obat. Udah nggak apa-apa, ya? Bayi kita minum sufor sementara ini." 

Duh, sedihnya aku. Terpisah dari si bayi seperti ini... Suamiku terus menenangkan dan menguatkan hatiku. Ia menyuruhku banyak zikir supaya tenang. 

"Memangnya Umi kenapa, Bi?" tanyaku lagi. 

"Kata dokter kamu kena eklamsia, Mi."

"Lha? Tapi kan Umi udah lewat 2 minggu dari persalinan, Bi!"

"Ya nggak tahu, Mi. Abi nggak tanya-tanya. Udahlah kamu istirahat lagi, ya?"

Aku diam. Ketika melirik jam dinding, baru ingat ini sudah amat larut. Suamiku pun perlu tidur, karena wajahnya terlihat sangat lelah. Akhirnya kuminta paksu tidur. Tubuhnya perlu dijaga kondisinya.

Mengenal Eklamsia 

Aku berusaha mencari tahu apa itu eklamsia dari perawat yang datang memeriksa. Singkatnya, eklamsia adalah kegawatdaruratan medis berupa kejang dan koma yang dialami bumil. 

Sobat mungkin pernah membaca atau mendengar atau melihat, bumil dengan riwayat darah tinggi atau kakinya bengkak dikategorikan kehamilan risiko tinggi. Karena memang itu ciri-ciri pre-eklamsia secara umum. Tapi pre-eklampsia nggak selalu diikuti kejang. Sedangkan yang kualami justru terjadi setelah melahirkan. Saat diperiksa kemarin di IGD, tensiku tinggi, 160/80-an. Itu terlalu tinggi buatku karena  biasanya aku hipotensi (tensi rendah).  Apa penyebab pastinya? Hingga sekarang belum diketahui secara pasti.

Oh, satu lagi. Penderita eklamsia pun dikenali lewat kadar protein yang tinggi di dalam urin-nya. Itulah sebabnya aku dipasangi kateter dan air seniku diperiksa secara berkala, demi memantau si protein yang nggak seharusnya ada di situ.

Mungkin itu pula penyebab aku dipantau ketat oleh tiga dokter spesialis: obgyn, saraf, penyakit dalam. Dua hari dua malam di ICU, dua hari dua malam berikutnya aku dipindahkan ke bangsal pengawasan kebidanan,  dan tiga hari sisanya kuhabiskan di ruang rawat inap biasa (bergabung dengan para bumil dan yang baru melahirkan). Untuk memastikan tak ada masalah di syaraf otak, aku pun sempat menjalani satu kali CT Scan.

Ada banyak kisah haru, senang, gembira, kualami selama mondok gara-gara eklamsia ini. Pinginnya sih kutulis terpisah, mungkin kapan-kapan, yaaa.
:)

Hikmah di balik Musibah

Hmm, yang jelas aku merasa masih diberi kesempatan kedua untuk membersamai keluarga. Kesempatan untuk melihat serta mengasuh anak-anak; menghargai arti kehidupan; memperbaharui ikatan kasih sayang dengan paksu, setelah melihat sendiri bagaimana ia berjuang untuk menjaga kami sekeluarga; dan memandang positif pada siapa pun. Sobat, orang-orang berhati emas itu banyak, lho, di sekitar kita. Kita cuma perlu membuka mata, hati, dan telinga saja buat mengetahui itu semua. Kalau boleh meminjam kalimat Dea Anugrah: 'Hidup ini begitu indah dan hanya itu yang kita punya'. Yes, it's true.
Alhamdulillah ala kulli hal.

Dan Salman Hanif Rosyid, kamu spesial, Nak.

Sampai di sini dulu cerita yang bisa aku bagikan, sobat. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di postingan berikutnya. Insya Allah.

Ps: thanks Rain Fello, chat kita di messenger setahun lalu jadi modal tulisan ini. Thanks Aci 'Maitra Tara' untuk keberanian yang kamu tularkan. Thanks buat teman-teman di WAG Sastra Populer: Mbak Ajeng, mbak Lusi, Mbak Riku, mbak Arum, dan Mbak Rosi. Tak ketinggalan Makasih buat Arwen.

Senin, 05 Agustus 2019

[Resensi] Resep Keakraban Keluarga Baduy



(Telah dimuat di Rubrik Pustaka Harian Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 26 Mei 2019)



Oleh: Gita FU

Judul Buku.     : Belajar Membaca Kegelapan
Penulis.            : Encep Abdullah
Penerbit.          : Gaksa Enterprise
Cetakan.          : Pertama, Maret 2019
Tebal                : ix+95 halaman
ISBN.                : 978-602-5906-40-4

Apakah  kehadiran sumber energi listrik meningkatkan kualitas hidup? Mungkin sebagian besar kita akan menjawab dengan yakin: ya, tentu saja. Dengan listrik hidup  manusia terasa  makin mudah. Terbukti oleh bermunculannya aneka piranti elektronik yang memanjakan: penanak nasi listrik, mesin cuci  baju,  kompor listrik, sepeda listrik, lemari pendingin, televisi,  dan lain sebagainya. Namun benarkah selalu demikian?

Encep Abdullah seorang guru di SMK Muhammadiyah Pontang, Banten, sekaligus seorang penulis muda, menyenaraikan buah pikirannya  melalui esai-esai yang cukup bernas. Untuk masalah listrik di awal tadi, ia mengajak pembaca melakukan studi kasus (Belajar dari Sekolah dan Suku Baduy, halaman 17).

Suatu ketika terjadi mati listrik di daerah tempatnya tinggal. Kemudian ia berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, yang mana hari itu akan ada pembagian rapor siswa. Ternyata di sekolah suasana begitu riuh. Rekan-rekannya sesama guru sibuk menyalahkan PLN, karena menyebabkan tidak selesainya pekerjaan mereka. Mulai dari printer yang mati padahal rapor belum selesai diisi, hingga matinya penanak nasi elektrik sehingga masak nasi menjadi lebih lambat.

"Padahal, bukankah dulu tak ada listrik, hidup terus berlangsung. Tak ada lampu, hidup terus berlangsung" (halaman 19).

Penulis lalu teringat suku Baduy (Rangkasbitung) yang pernah ditandanginya. Di sana tak ada listrik, berkat kearifan lokal yang masih dijaga. Begitu magrib kegelapan menyelimuti rumah-rumah. Hidup mereka sungguh bersahaja. Namun justru kehangatan dalam keluarga muncul. Antar anggota keluarga terasa akrab dan dekat; sehari-hari mereka saling bekerja sama, tiada ketergantungan pada peralatan elektronik.  Sungguh sebuah ironi.

Pada esai berjudul "Anak-anak yang Dewasa Sebelum Waktunya", penulis mengkritisi kelangkaan acara khusus anak di televisi (halaman 12). Acara televisi didominasi sinetron dan hiburan musik dangdut sejak petang hingga pukul sepuluh malam.  Akibatnya anak-anak ikut menonton dan terpapar hal yang belum layak bagi mereka. Solusinya menurut penulis, kembali pada pola pendidikan dalam keluarga.

Empat belas esai lainnya menarik pula disimak. Ada yang menyoal dunia sastra dan literasi, serta dunia pendidikan. Sesuai dengan bidang si penulis: guru dan penulis. Setidaknya buku sehimpun esai ini bisa dijadikan referensi pemikiran bagi pembaca umum. (*)

Cilacap, 180419