Cari Blog Ini

Rabu, 25 September 2019

Eklamsia, 2 Minggu Pasca Persalinan Hanif

papan informasi di Ruang ICU RSUD Cikacap. foto: dokpri



Assalamualaikum. Semangat pagi, Sobat semua!

Ada kalanya pengalaman yang tidak menyenangkan meninggalkan semacam trauma dalam benak kita. Wujud trauma itu bisa macam-macam, ada yang jadi parnoan--alias paranoid, ada yang jadi amnesia sementara, ada juga yang denial--alias sibuk menyangkal pengalaman itu, dan lain-lain. Sebenarnya mengatasinya itu 'mudah', yaitu dengan bercerita. Karena saat bercerita, sesungguhnya kita sedang mengurangi kengerian/ketakutan/kesedihan pribadi, supaya lebih ringan ditanggung. Iya, nggak?
Tapiiiii, bercerita pun butuh keberanian. *Ahelaah, jadi gimana, dong? Yaaaa, harus diberani-beraniin. Cari orang yang mampu menumbuhkan keberanian kita. Hehehe. Maaf, ya, sobat kalau aku mbulet. Aku kan bukan motivator. :p

Aku sendiri butuh waktu cukup lama untuk pikir-pikir sebelum menuliskan pengalaman ini di blog. Kalau cerita ke teman yang dipercaya sih, udah, ya. Dia juga sih yang ngedorong aku buat sharing. Katanya, siapa tahu pengalamanku bermanfaat buat orang lain.  *sigh. Saking lamanya mikir dan maju mundur, nggak terasa sudah lewat setahun. *Tepok jidat.
Jadiii, inilah dia pengalamanku setahun lalu. Semua berhubungan dengan kelahiran anak nomor tiga, si bontot Hanif. Disimak ya, Sobat!

Awal Mula

Kita mulai dari kisah persalinan Hanif.
Aku mulai rawat inap sejak Rabu, 5 September 2018. Sementara jadwal operasinya hari Kamis, 6 September 2018. Dokter kandungan yang menanganiku adalah Dr. Supadmi, Sp. Og. Beliau orang Sampang, Cilacap, masih tetangga desa dengan mbak Erin Cipta. Usia kandunganku 38 Minggu 4 hari, Alhamdulillah sudah pas menurut pemeriksaan dokter. Dan insyaallah dengan kelahiran si bontot ini maka jadi penutup kehamilan pula bagiku. Karena riwayat persalinanku by Cesar semua, maka 3 kali operasi adalah batas maksimalnya. Kondisiku akan kian menurun dibanding yang dulu. (Ini bakal terbukti kemudian).

Singkat kata, aku pulang membawa bayi Hanif pada tanggal 10 September 2018. Setelah di rumah drama baru sudah menunggu.
Punya bayi lagi tentu saja menguras fisik dan emosiku. Semua itu ditambah ada dua anak yang sedang pinter-pinternya bikin ngelus dada: Farhan kelas 6, Hanna baru TK. Masih bersyukur ada Mbah buyut uti yang meringankan pekerjaan rumah, dan suami yang kerjanya fleksibel sehingga bisa membantu, tapi tetap saja aku mengalami shock. Kurang tidur, ditambah spaneng, ditambah ini-itu akhirnya membuat kepalaku sakit.

Aku ingat, hari Rabu 19 September itu kepalaku mulai pening kayak mau pilek. Tapi masih kuabaikan. Eh, Kamisnya makin parah. Rasanya seperti dipalu kepalaku, sakiiit banget. Sempat mengira ini cuma masuk angin biasa, jadi saat suami istirahat pulang siangnya aku minta dikerokin. Setelah  itu dia berangkat jualan lagi. Tapi meski sudah dikerokin, tetap nggak ilang sakit kepalaku.  Malah semakin parah. Bersyukur sekali paksu pulang jualan  jam 5, karena biasanya habis magrib baru selesai. Si Mbah langsung melaporkan sakit kepalaku ini ke paksu. Tanpa ba-bi-bu dia langsung nurunin gerobak leker, terus ngajak aku ke klinik Pratama di jalan Krawang Sari. Anak-anak ditinggal semua sama Simbah. Duh, sepanjang perjalanan aku cuma bisa menelungkupkan muka ke punggung paksu.

Sampai di klinik aku antri sebentar, sekira seperempat jam. Tiba giliranku diperiksa, aku ceritakan sakit kepala hebat disertai pandangan memburam. Aku  juga bilang bahwa dua minggu sebelumnya operasi Caesar. Bu mantri menyuruhku baring di dipan, terus aku dikasih obat pereda  sakit via anal. Anehnya, sakit kepalaku makin menjadi-jadi. Tak lama aku seperti hilang kesadaran.

Sudah di Rumah Sakit

Aku siuman kala mendengar samar-samar percakapan orang-orang di sekelilingku. Lalu seperti ada yang memanggil-manggil namaku. Kala kubuka mata, rupanya itu suara paksu dan adik iparku Santi. Kemudian ada beberapa orang lagi, mereka tengah melepas jaketku. Spontan aku ingat bayi dan anak-anakku. Langsung kutanyakan pada Santi dan dijawab semua baik-baik saja, sudah ada yang bantu menangani di rumah, jadi aku tak usah khawatir. Lalu rasa sakit di kepalaku datang lagi. Selanjutnya aku kembali tak sadarkan diri.

Beberapa saat berlalu, aku sadar kembali. Kali ini suasana gelap. Rupanya aku sedang berada di dalam mobil ambulans didampingi paksu, yang tak henti-hentinya berzikir di telingaku sembari memanggil-manggil namaku. Katanya, "Kuat, ya, Mi. Insya Allah kamu kuat. Sabar ya, kamu mau ditolong. Kita mau ke ICU naik ambulans. Istighfar, Mi."
Aku hanya diam, lalu kembali tak sadar.

Ketika kembali siuman, aku sudah di atas ranjang ruang ICU. Ada selang oksigen di hidung, lalu alat entah apa menempel di dada, infus yang berbeda dari yang pernah terpasang saat aku operasi cesar, dan pemindai entah apa dijepitkan di ibu jariku; belum lagi kateter yang sudah terpasang, mengganggu gerakku. Suara-suara statis dan dengungan mesin semakin menambah perbedaan ruangan ICU dengan ruang rawat inap biasa. Aku bingung, kenapa kondisiku jadi begini. Sakit di kepalaku pun masih terasa kuat. Suamiku banyak tersenyum menenangkan sambil terus melantunkan  zikir. Aku kembali memejamkan mata.

Beberapa kali aku terbangun akibat sakit yang masih mendera. Suamiku sigap membantu membenarkan posisi bantal. Belakangan aku baru ngeh, bantal itu dibawakan oleh Aa', anak sulung Santi. Sempat pula suamiku bertanya, dari keluargaku siapa yang patut dikabari. Kujawab, lebih baik mengabari Agung terlebih dahulu. Aku khawatir reaksi orang tuaku jika diberi tahu kondisi saat itu; pasti panik, dan makan pikiran mereka. Setelah itu aku tertidur lagi.

Lewat tengah malam, kalau nggak salah jam 2 dini hari, barulah aku bisa mengobrol lebih enak Karena sakitku  mulai reda. Aku minta diceritakan apa yang telah terjadi. Paksu pun menjelaskan kejadian sejak di klinik. Setelah Bu mantri menyuruhku berbaring miring usai diberi obat, tiba-tiba aku mengalami kejang-kejang lalu koma di sana. Bu Mantri panik, buru-buru menyuruh paksu membawaku ke IGD. Suamiku berpikir dan bergerak cepat. Ia langsung menuju rumah salah satu pakliknya yang masih di sekitar klinik itu.

Ketika itu pakliknya--Lik Adman--beserta istri tengah menghadiri undangan pernikahan (untunglah masih di dekat-dekat klinik). Begitu paksu mendatangi dan meminta tolong, sontak beliau berdua bergegas menyiapkan mobil angkotnya  lalu menjemputku ke klinik. Sementara paksu buru-buru pulang ke rumah, memberitahu Simbah apa yang terjadi sekaligus meminta tolong Santi untuk ikut ke rumah sakit.

Aku dibawa ke IGD RSUD Cilacap. Di situ para perawat memberi pertolongan pertama, berupa suntikan lewat infus. Seperti kutulis di atas, aku sempat siuman dan mendengar suara Santi dan suami. Namun aku kembali kejang-kejang disusul jatuh koma. Hal tersebut membuat dokter memutuskan aku harus menginap di ICU. Ya Allah...


infus dan pemindai detak nadi di tangan saya

"Bagaimana dengan Hanif, Bi?" tanyaku lirih. Kasihan sekali bayiku. Padahal dia masih butuh ASI.

"Sudah nggak usah khawatir. Hanif dirumat Santi. Farhan dan Hanna sama Mbah uti," balas suamiku. "Yang penting kamu cepat sehat, ya."

"Tapi Hanif kan masih mimik ASI? Apa ASI-nya Az diperah terus kasih ke dia?"

"Nggak usah, Mi. Kata dokter ASI-mu mengandung obat. Udah nggak apa-apa, ya? Bayi kita minum sufor sementara ini." 

Duh, sedihnya aku. Terpisah dari si bayi seperti ini... Suamiku terus menenangkan dan menguatkan hatiku. Ia menyuruhku banyak zikir supaya tenang. 

"Memangnya Umi kenapa, Bi?" tanyaku lagi. 

"Kata dokter kamu kena eklamsia, Mi."

"Lha? Tapi kan Umi udah lewat 2 minggu dari persalinan, Bi!"

"Ya nggak tahu, Mi. Abi nggak tanya-tanya. Udahlah kamu istirahat lagi, ya?"

Aku diam. Ketika melirik jam dinding, baru ingat ini sudah amat larut. Suamiku pun perlu tidur, karena wajahnya terlihat sangat lelah. Akhirnya kuminta paksu tidur. Tubuhnya perlu dijaga kondisinya.

Mengenal Eklamsia 

Aku berusaha mencari tahu apa itu eklamsia dari perawat yang datang memeriksa. Singkatnya, eklamsia adalah kegawatdaruratan medis berupa kejang dan koma yang dialami bumil. 

Sobat mungkin pernah membaca atau mendengar atau melihat, bumil dengan riwayat darah tinggi atau kakinya bengkak dikategorikan kehamilan risiko tinggi. Karena memang itu ciri-ciri pre-eklamsia secara umum. Tapi pre-eklampsia nggak selalu diikuti kejang. Sedangkan yang kualami justru terjadi setelah melahirkan. Saat diperiksa kemarin di IGD, tensiku tinggi, 160/80-an. Itu terlalu tinggi buatku karena  biasanya aku hipotensi (tensi rendah).  Apa penyebab pastinya? Hingga sekarang belum diketahui secara pasti.

Oh, satu lagi. Penderita eklamsia pun dikenali lewat kadar protein yang tinggi di dalam urin-nya. Itulah sebabnya aku dipasangi kateter dan air seniku diperiksa secara berkala, demi memantau si protein yang nggak seharusnya ada di situ.

Mungkin itu pula penyebab aku dipantau ketat oleh tiga dokter spesialis: obgyn, saraf, penyakit dalam. Dua hari dua malam di ICU, dua hari dua malam berikutnya aku dipindahkan ke bangsal pengawasan kebidanan,  dan tiga hari sisanya kuhabiskan di ruang rawat inap biasa (bergabung dengan para bumil dan yang baru melahirkan). Untuk memastikan tak ada masalah di syaraf otak, aku pun sempat menjalani satu kali CT Scan.

Ada banyak kisah haru, senang, gembira, kualami selama mondok gara-gara eklamsia ini. Pinginnya sih kutulis terpisah, mungkin kapan-kapan, yaaa.
:)

Hikmah di balik Musibah

Hmm, yang jelas aku merasa masih diberi kesempatan kedua untuk membersamai keluarga. Kesempatan untuk melihat serta mengasuh anak-anak; menghargai arti kehidupan; memperbaharui ikatan kasih sayang dengan paksu, setelah melihat sendiri bagaimana ia berjuang untuk menjaga kami sekeluarga; dan memandang positif pada siapa pun. Sobat, orang-orang berhati emas itu banyak, lho, di sekitar kita. Kita cuma perlu membuka mata, hati, dan telinga saja buat mengetahui itu semua. Kalau boleh meminjam kalimat Dea Anugrah: 'Hidup ini begitu indah dan hanya itu yang kita punya'. Yes, it's true.
Alhamdulillah ala kulli hal.

Dan Salman Hanif Rosyid, kamu spesial, Nak.

Sampai di sini dulu cerita yang bisa aku bagikan, sobat. Semoga bermanfaat. Sampai jumpa di postingan berikutnya. Insya Allah.

Ps: thanks Rain Fello, chat kita di messenger setahun lalu jadi modal tulisan ini. Thanks Aci 'Maitra Tara' untuk keberanian yang kamu tularkan. Thanks buat teman-teman di WAG Sastra Populer: Mbak Ajeng, mbak Lusi, Mbak Riku, mbak Arum, dan Mbak Rosi. Tak ketinggalan Makasih buat Arwen.

Senin, 05 Agustus 2019

[Resensi] Resep Keakraban Keluarga Baduy



(Telah dimuat di Rubrik Pustaka Harian Kedaulatan Rakyat edisi Minggu, 26 Mei 2019)



Oleh: Gita FU

Judul Buku.     : Belajar Membaca Kegelapan
Penulis.            : Encep Abdullah
Penerbit.          : Gaksa Enterprise
Cetakan.          : Pertama, Maret 2019
Tebal                : ix+95 halaman
ISBN.                : 978-602-5906-40-4

Apakah  kehadiran sumber energi listrik meningkatkan kualitas hidup? Mungkin sebagian besar kita akan menjawab dengan yakin: ya, tentu saja. Dengan listrik hidup  manusia terasa  makin mudah. Terbukti oleh bermunculannya aneka piranti elektronik yang memanjakan: penanak nasi listrik, mesin cuci  baju,  kompor listrik, sepeda listrik, lemari pendingin, televisi,  dan lain sebagainya. Namun benarkah selalu demikian?

Encep Abdullah seorang guru di SMK Muhammadiyah Pontang, Banten, sekaligus seorang penulis muda, menyenaraikan buah pikirannya  melalui esai-esai yang cukup bernas. Untuk masalah listrik di awal tadi, ia mengajak pembaca melakukan studi kasus (Belajar dari Sekolah dan Suku Baduy, halaman 17).

Suatu ketika terjadi mati listrik di daerah tempatnya tinggal. Kemudian ia berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, yang mana hari itu akan ada pembagian rapor siswa. Ternyata di sekolah suasana begitu riuh. Rekan-rekannya sesama guru sibuk menyalahkan PLN, karena menyebabkan tidak selesainya pekerjaan mereka. Mulai dari printer yang mati padahal rapor belum selesai diisi, hingga matinya penanak nasi elektrik sehingga masak nasi menjadi lebih lambat.

"Padahal, bukankah dulu tak ada listrik, hidup terus berlangsung. Tak ada lampu, hidup terus berlangsung" (halaman 19).

Penulis lalu teringat suku Baduy (Rangkasbitung) yang pernah ditandanginya. Di sana tak ada listrik, berkat kearifan lokal yang masih dijaga. Begitu magrib kegelapan menyelimuti rumah-rumah. Hidup mereka sungguh bersahaja. Namun justru kehangatan dalam keluarga muncul. Antar anggota keluarga terasa akrab dan dekat; sehari-hari mereka saling bekerja sama, tiada ketergantungan pada peralatan elektronik.  Sungguh sebuah ironi.

Pada esai berjudul "Anak-anak yang Dewasa Sebelum Waktunya", penulis mengkritisi kelangkaan acara khusus anak di televisi (halaman 12). Acara televisi didominasi sinetron dan hiburan musik dangdut sejak petang hingga pukul sepuluh malam.  Akibatnya anak-anak ikut menonton dan terpapar hal yang belum layak bagi mereka. Solusinya menurut penulis, kembali pada pola pendidikan dalam keluarga.

Empat belas esai lainnya menarik pula disimak. Ada yang menyoal dunia sastra dan literasi, serta dunia pendidikan. Sesuai dengan bidang si penulis: guru dan penulis. Setidaknya buku sehimpun esai ini bisa dijadikan referensi pemikiran bagi pembaca umum. (*)

Cilacap, 180419

Rabu, 24 Juli 2019

[Cerma] Tanpa Ibu



(Terbit di Mingguan Minggu Pagi--KR Grup)


Oleh: Gita Fetty Utami

Pembacaan tahlil dan doa selepas isya belum lama  usai. Para tetangga telah berpamitan pulang semua. Menyisakan Ayah bersama beberapa kerabat yang masih bercakap-cakap di ruang tamu. Kiara segera beranjak masuk ke kamarnya. Ia rebahan menatap langit-langit dengan mata sembab, sembari memeluk bantal guling. Rasa-rasanya ia sulit percaya Ibu telah tiada dan dimakamkan tadi siang.

"Ibu," rintih remaja kelas dua SMP ini.

Benaknya kembali memutar rekaman peristiwa, saat tadi pagi Om Tanto ke sekolah dan meminta ijin ke kantor guru untuk menjemputnya. Kiara cemas karena adik ibunya itu memasang raut wajah tegang. Namun tak ada penjelasan lebih jauh ketika ia bertanya, selain mengatakan Ibu ingin bertemu.

Sepanjang perjalanan bermotor dari kompleks sekolah berasrama menuju rumah, Kiara terpaksa menebak-nebak sendiri. Apakah kondisi Ibu melemah lagi? Namun  jika demikian, seharusnya Ibu dibawa  ke rumah sakit, bukan? Kenapa Ibu malah memintanya pulang? Aduh, hati Kiara seperti digoreng minyak panas saking gelisahnya. Kemudian baru ia sadari Om Tanto mengebut dan mengambil jalan-jalan pintas agar lekas sampai.

Di jalan masuk menuju rumah, Kiara melihat beberapa tetangga duduk di teras rumah. Mendadak Kiara disergap ketakutan tak bernama. Begitu motor berhenti, Kiara langsung meloncat turun, masuk terburu-buru.

Di kamarnya Ibu terbaring dengan mata terpejam. Ayah tak henti-henti membisikkan kalimat syahadat ke telinga kanan Ibu, menuntun beliau mengucapkannya. Andini, kakak Kiara, terisak-isak di kaki ranjang. Menyaksikan pemandangan itu membuat tubuh Kiara kehilangan bobot. Ia segera menubruk  wanita yang melahirkannya itu.

"Ibu kenapa?" pekiknya. "Bangun, Bu! Ini Kia!"

Ajaib. Mata Ibu membuka, lalu menatap Kiara. Dengan terpatah-patah ibu bicara. "Ki-a. Nak, ka-mu yang kuat, ya? Ja-ga iba-dah-mu. Ibu sa-yang Ki-a." Setelah itu mata Ibu kembali menutup meskipun Kiara dan Andini bergantian memanggil.

"Innalillahi wa innailaihi rajiun," ucap Ayah lirih. "Ibu sudah pergi, anak-anak." Pecahlah tangisan mereka sekeluarga.

Kiara mengusap lelehan air matanya yang semakin membanjir. Kata Ayah, tiga hari sebelumnya dada Ibu sesak. Namun Ibu sama sekali bergeming saat hendak dibawa kontrol ke rumah sakit. Ibu bersikeras tetap di rumah dan minum obat rutin seperti biasa. Hingga akhirnya tubuh Ibu ambruk. Kiara sama sekali tak diberitahu justru atas permintaan Ibu. Beliau mempertimbangkan persiapan Kiara menghadapi ujian akhir semester.

"Ibu, Kia sebatang kara sekarang," isaknya lagi. Gadis ini makin tenggelam dalam kesedihan. Ia sibuk meratapi nasib. Hingga tak mendengar suara ketukan di pintu.

"Kia, rupanya kamu di sini," sapa Andini. Gadis yang lebih tua dua tahun dari Kiara ini duduk di pinggir ranjang, menatap prihatin pada adiknya. Kiara langsung menutupi wajah dengan bantalnya.

"Kia, Kakak paham kamu sedih. Kakak juga amat kehilangan Ibu...."

"Mana mungkin Kak Dini paham! Kia bukan cuma sedih Ibu meninggal, tapi juga kecewa nggak ada di samping Ibu saat sakit! Kenapa, sih, Kia jadi orang terakhir yang dikabari? Padahal yang anaknya Ibu, tuh, Kia, bukan Kak Dini!" sembur Kiara tiba-tiba. "Dan sekarang Kia jadi yatim piatu, tahu!"

Andini terperenyak. Ia menghela napas, meredakan gejolak perasaannya sendiri. Adiknya sedang emosi, percuma dilawan dengan kata-kata. Andini membenahi rambut panjangnya, sebelum mulai bicara lagi.

"Kamu ingat pertama kali kita bertemu? Saat itu kamu kelas 1 SD dan Kakak kelas 3. Tiap melihat Kakak, kamu seperti malu-malu. Kakak juga bingung mau ngobrol apa. Sedangkan Ayah menyuruh Kakak untuk akrab denganmu. Eh, untung ada si Sentaro, ya?"

Kiara tetap membisu. Namun diam-diam ia pun mengenang masa itu, ketika ibunya baru menikah lagi dengan ayahnya Andini. Sentaro kucing belang tiga milik Andini menjadi pencair kecanggungan mereka. Lambat laun Kia dan Andini akrab selayaknya saudara kandung.

"Kamu tahu nggak, Kia? Waktu ayah menyatakan hendak menikah lagi, sebetulnya aku takut! Orang-orang bilang ibu tiri kejam, hanya sayang sama ayah saja. Tapi Ayah meyakinkanku akan kebaikan hati Bu Tyas, ibumu. Ayah bilang nggak mungkin menikahi wanita yang nggak sayang sama anak. Dan ternyata Ayah benar," ucap Andini lagi. "Kasih sayang ibu yang tulus mampu menyembuhkan trauma akibat perlakuan kasar mama kandungku."

Kiara terperangah. Ia tak tahu bagian itu. Ibu hanya mengatakan bahwa Kak Andini anak yang tabah, dan patut disayangi sepenuh hati. Cara Ibu memperlakukan mereka begitu luwes, sehingga Kiara tak merasa keberatan berbagi kasih sayang. Demikian pula sikap Pak Rinto, ayahnya Andini, kepada Kiara, penuh perhatian dan pengayom. Pendek kata mereka berempat dapat saling berbaur dan mengisi tanpa kesulitan berarti, selayaknya keluarga utuh.

Tangis Kiara  berhenti. Andini menyadarinya. Lembut disentuhnya bahu adiknya itu. Kiara tak menampik.
"Kia, tanpa Ibu, kamu tetap adikku,  Ayah tetap ayahmu. Kita satu keluarga. Ya?" Andini merengkuh tubuh Kiara ke dalam pelukan. Mereka kini berbagi kekuatan. (*)

Cilacap, 270519

Catatan penulis: cerma ini saya tulis setelah ibu saya Anneke Dewi meninggal tanggal 3 Mei. Meskipun beliau bukan ibu kandung saya, tetapi segala kebaikannya tersimpan rapi dalam ingatan saya.