Cari Blog Ini

Senin, 29 Juni 2020

[Cerpen] Erwin dan Tiga Dara


Medan Pos edisi Minggu, 21 Juni 2020
Rubrik Seni dan Budaya


(Tersiar di Harian Medan Pos edisi Minggu, 21 Juni 2020)

Oleh: Gita FU

Pagi ini langit kelabu.  Tak ada yang menyerbu kamar mandi satu-satunya di dekat dapur. Tak ada yang meributkan bedak atau lipstik yang berpindah tempat karena dipakai bersama. Tak ada yang mengeluhkan tugas kuliah hari ini. Pun tak ada yang bergegas ke warung Bu Lastri untuk antri membeli nasi bungkus. Tak ada yang ingin melakukan itu semua. Kami terlalu syok untuk melakukan rutinitas.

"Coba Gea, kamu ceritakan lagi. Rasanya aku susah percaya," ucap Malia gemetar. Aku memelotot sebal padanya.

"Iya, Ge. Barangkali kamu salah lihat tadi," timpal Ielma. Kali ini kegusaranku meluap.

"Kalau kalian memang tak percaya, ayo ikut denganku!" 

Jam setengah enam tadi, aku  bersepeda ke minimarket 24 jam terdekat di luar gang rumah kos kami ini. Aku kedatangan tamu bulanan dan baru ingat tidak punya persediaan pembalut wanita. Ketika dalam perjalanan pulang, aku mengayuh sepeda di sisi yang berseberangan dengan saat berangkat. Di muka rumah kosong berhalaman luas itulah aku menangkap pemandangan mengerikan. Aku nyaris terpeleset gara-gara menarik rem mendadak. 

"Erwin!" Aku menjerit tanpa sadar. Jalanan masih lenggang, tak ada yang tertarik mendekat. Aku merasa  tengah bermimpi buruk, dan berharap bisa terbangun untuk mendapati semuanya baik-baik saja. Namun lengan kiriku sakit menerima cubitan jemari tangan kananku. Aku ingin lebih mendekat, tapi kakiku menolak melangkah. Akhirnya aku bergegas pulang.

 Malia mengusap lelehan air matanya, sedangkan Ielma hanya mematung. "Padahal tadi malam aku masih melihatnya di kursi teras. Masa pagi ini dia sudah pergi, sih?" gumam Malia.

 "Menurutmu apa penyebab kematiannya, Gea?" Suara Ielma bergetar, ia menatapku pedih.

"Entahlah. Mungkin ia sakit, atau keracunan. Yang jelas,  tak ada darah tumpah di sekitar tubuhnya." Bila ada darah maka kemungkinannya bertambah: Erwin menjadi korban tabrak lari, atau seseorang sengaja memukulinya sampai mati.

Kami lalu duduk berjajar di sofa ruang tamu.  "Mungkin seharusnya kubawa pulang saja jasadnya tadi," sesalku, "tapi aku terlalu takut." 

 Malia meremas lembut pundakku. "Sudahlah, Gea. Aku jadi terkenang pada bantuan Erwin, saat aku sakit hati akibat dikhianati  Jon," cetusnya. "Kalian ingat masa-masa kacauku, kan?" 

Kami mengiakannya. Peristiwa putus cinta itu terjadi tiga bulan lalu. Malia dan Jon telah berpacaran setahun.  Jon adalah kakak tingkat flamboyan. Ia terpikat pada   Malia yang eksotis, setelah menatar teman kami ini sebagai anggota baru klub jurnalistik kampus. Namun kemudian Jon  melihat kecantikan gadis lain, dan berpaling dari Malia. 

"Erwin sering mengekoriku. Padahal aku cuma ingin menyendiri, mengasihani diri sendiri. Namun seolah-olah mengerti kesedihanku, ia malah bertingkah manja dan menggemaskan. Membuatku lama-lama merasa terhibur." Malia menerawang, bibirnya melengkung ke atas.

Aku melirik ke arah gadis itu. Erwin pun melakukan hal yang serupa padaku. Tingkahnya yang senang dekat-dekat pada manusia, rupanya berhasil menjadi terapi buatku. Aku pernah punya pengalaman buruk  sewaktu usiaku   sembilan tahun.  Ada seekor induk berwarna belang tiga datang dan melahirkan tiga anaknya di rumah. Kucing-kucing itu pun menjadi sasaran belaian, dan permainan bagi aku dan dua adikku. Mulanya orangtua kami  tidak keberatan. 

 Lalu anak-anak kucing semakin besar. Dan mulailah ibu kami mengomel-omel, tentang kotorannya, tentang betapa terganggunya ia dengan  kucing yang berlarian ke sana ke mari. Seolah belum cukup, adik terkecilku memukuli perut salah satu anak kucing hingga mati; aku ingat buih yang keluar dari hidung dan mulut kucing kecil itu. Disusul kematian seekor anak kucing lainnya akibat sakit. Kemudian ayahku memungkasinya dengan membuang si induk beserta seekor anak yang tersisa, entah ke mana. Patah hatilah aku.

Sejak kejadian itu aku selalu takut berdekatan dengan binatang berbulu itu. Hingga takdir membuatku bertemu Malia, dan Ielma di kampus yang sama. Kemudian kami memutuskan menyewa rumah kos secara patungan, di mana seekor kucing jantan berwarna cokelat putih milik penyewa sebelumnya, menyambut kami dengan riang.

"Kalian ingat tidak waktu Erwin berhasil menerkam  burung merpati Pak Mamet?" celetuk Ielma. "Itu bikin Pak Mamet muntab ke kita, kan?" Insiden itu terjadi dua minggu lalu.

 Kami  bertengkar dengan laki-laki paruh baya itu. Malia dan Ielma berbalik menyalahkan Pak Mamet selaku pemilik yang abai. Saban hari si burung   hinggap di teras kami, lalu buang kotoran seenaknya. Aku segera memeluk Erwin, berjaga-jaga seandainya Pak Mamet kalap. Pertengkaran itu sampai-sampai ditengahi Pak Heru, tetangga kos. Akhirnya Pak Mamet batal meminta ganti rugi, sebaliknya kami pun meminta maaf atas polah  Erwin.

"Kalau mengingat kemarahan Pak Mamet, mungkin tidak dia ada hubungannya dengan kematian Erwin?" Malia melontarkan prasangka. Seketika kami terlonjak menyadari kemungkinan yang tercipta. Balas dendam merupakan hal lumrah, tanpa memandang spesies.

"Mmm, bisa jadi, sih. Tapi andai benar, kita sulit membuktikannya. Salah-salah kita dituduh melakukan pencemaran nama baik," sanggahku. Malia dan Ielma terpaksa membenarkannya.

"Pertama-tama ayo kita lihat dulu bagaimana jasad Erwin," ajak Ielma. "Setelah itu kita bawa pulang dan kubur di halaman belakang." Apa yang diucapkan Ielma masuk akal. Sudah saatnya kami melakukan sesuatu, tidak hanya tenggelam dalam nelangsa.

Kami baru saja melangkah ke pagar. Saat itulah seekor kucing melompat turun dari tembok pembatas samping rumah. Ia lalu mengiau manja pada kami. 

"Lho? Erwin!" seru kami berbarengan. (*)

Cilacap, 180320



Selasa, 19 Mei 2020

Ide Kegiatan #DiRumahSaja: Membuat Bunga dari Pita dan Sedotan Plastik

Bunga Pita. Dokpri.


Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Haeee Sobat! Saya datang lagi, niih. Kali ini sebagai penutup rangkaian #BPNRamadan30DayChallenge, saya ingin menuliskan tutorial sederhana: membuat bunga dari pita Jepang dan sedotan plastik. Tutorial ini sekaligus bisa kalian jadikan ide mengisi kegiatan selama #dirumahsaja. Biar nggak bosen, gitu.

Nah, sebelum kita membahas langkah-langkah, ini dia bahan-bahan yang kalian butuhkan:

  • Beberapa gulung pita Jepang aneka warna. Potong-potong sepanjang 15 cm;
  • Sedotan plastik warna-warni. Pilih yang biasa buat pop ice, jadi plastiknya lebih kukuh nggak gampang mleat-mleot;
  • Cutter;
  • Penggaris besi;
  • Selotip



Setelah itu mulailah bekerja dengan langkah-langkah sbb:

  1. Satukan 5 lembar pita Jepang yang sudah dipotong, menggunakan stapler. Setelah itu bagian tengahnya digurat-gurat tipis, jangan sampai putus;
  2. Ambil selembar pita, lingkarkan bagian bawahnya mengelilingi ujung sedotan. Kemudian beri selotip;
  3. Tarik bagian pita yang masih tegak, ke badan sedotan. Buang kelebihan pita. Beri selotip;
  4. Cobalah dites. Jika  pita bagian pangkal bawah dapat didorong hingga ke pangkal atas sedotan, lalu bisa diputar membentuk kelopak bunga, itu tandanya sudah jadi.
  5. Siap dimainkan/dipajang di vas bunga/ dijual.

Ini dia hasil jadinya. Apik, kan? | Dokpri.

Hanna bahkan sempat menjual bunga ini ke kawan-kawan di sekitar rumah. Ia dan teman-temannya memberi nama: tongkat bunga. Selama beberapa waktu yang lalu, tiap pagi ada saja anak-anak yang datang minta dibuatkan. Mereka lalu membayar 1000 perak pada Hanna. 😁
Lumayan buat uang jajannya.




Gampil, kan? Semoga bermanfaat. Salam. (*)

Cilacap, 190520

#Day30
#BPNRamadan2020

Melatih Empati Anak-anak Terhadap Binatang




Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya amat bersyukur saat ini tinggal di rumah yang memiliki pekarangan belakang cukup luas. Sehingga kami bisa memanfaatkannya untuk menanam aneka tanaman, mulai dari toga, pohon alpukat, hingga beberapa jenis  tanaman konsumsi.

Selain aneka tumbuhan, pekarangan belakang kami pun menjadi tempat tinggal atau sekadar mampir sejumlah binatang. Sebut saja: burung emprit, burung dara, tawon, kupu-kupu, kepik, bunglon, kadal, bekicot, sirpoh, belalang, laba-laba, kelabang, lipan, tikus, kecoa, kucing, hingga semut.
Mirip kebun binatang, deh. 😆

Anak-anak kami biasa bermain di sini. Entah sekadar main panjat pohon, main tambang pasir, hingga gelar tikar lalu piknik-piknikan. Terkadang di waktu tertentu kami serumah kerja bakti sesuai kemampuan masing-masing, membersihkan pekarangan belakang.

Pada momen bermain atau bekerja inilah anak-anak berkesempatan berinteraksi dengan para binatang. Kami pun bisa mengajari mereka berbagai hal tentang binatang tersebut; misal: karakteristik, makanan, tempat hidup, jenis hama atau bukan.

Anak belalang sembah. Dokpri.

Bunglon di pohon alpukat. Dokpri.

Melalui para binatang ini juga kami melatih empati anak-anak. Binatang sebagai makhluk Allah, memerlukan perhatian dan kasih sayang kita. Kita tidak boleh berbuat sewenang-wenang, menyiksa, atau merampas hak hidup mereka; terkecuali binatang tertentu yang membahayakan keselamatan manusia.

Suatu kali si sulung Farhan menemukan bayi burung, di salah satu tumpukan terpal tak terpakai di halaman belakang. Ia lalu melaporkan pada saya dan si Abi. Adik-adiknya antusias ikut menonton. Setelah kami periksa bersama, rupanya bayi burung itu entah bagaimana terjatuh dari sarang. Kasihan sekali.

Si Abi lalu menyuruh saya membuatkan sarang buatan. Bayi itu kami letakkan di dalam piti (wadah nasi) plastik, yang dialasi kain. Setelah itu ia kami beri makanan berupa tepung beras yang diencerkan sedikit, serta air minum.

Bayi burung disuapi menggunakan potongan kayu tipis. Dokpri.

Pengalaman ini sungguh berharga. Anak-anak kami melihat  dan memperhatikan sendiri semua prosesnya. Meskipun pada akhirnya si bayi burung tak bertahan hidup lama. Paling tidak kami telah berusaha menyelamatkannya. Dan mudah-mudahan anak-anak kami tumbuh dengan rasa empati yang tinggi terhadap binatang.

Demikianlah cerita Ramadhan kami.
Semoga bermanfaat. (*)

Cilacap, 18-190520

#Day29
#BPNRamadan2020